Yang Tercecer dari Halal Bihalal

 

Sudah menjadi tradisi yang dilakukan berkali-kali, kebiasaan yang selalu dilakukan, adat yang tidak boleh terlewat, Halal bi Halal setiap peringatan hari raya Idul Fitri. Setelah melaksanakan puasa satu bulan penuh pada bulan Romadhon, maka hari kemenanganpun tiba, yaitu hari raya Idul Fitri. Menurut cerita maupun berita, Halal bi Halal adalah peringatan hari besar yang hanya dilaksanakan di Indonesia, entah mulai kapan, tidak ada kitab, naskah, prasasti bahkan kidung dan macapat yang menerangkannya. Inti dari acara tersebut adalah saling berjabat tangan dan  saling memaafkan untuk melebur dosa antara manusia.
MGMP IPA SMP/MTs Kabupaten Kendal sebagai sebuah organisasi profesi guru-guru IPA SMP dan MTs, tentunya entah sengaja maupun tidak sengaja telah melakukan salah, alpha maupun khilaf selama dalam kebersamaannya. Bisa jadi pada saat itu kata maaf belum terucap. Maka, pada Idul Fitri ini, kesempatan bermaaf-maafan terbuka lebar. Tentunya yang bermaaf-maafan tidak terbatas pada yang saling bersalah, yang tidak bersalahpun tidak jadi soal kalau minta maaf.
Halal bi Halal MGMP IPA SMP/MTs Kabupaten Kendal tahun 2008 dilaksanakan di sebuah rumah makan Salsabil, Cangkring Brangsong, dihadiri oleh pelindung MGMP IPA Bp. , Ketua dan pengurus MGMP, serta guru-guru IPA SMP se Kabupaten Kendal. Sungguh disayangkan, karena adanya kesalahpahaman, guru-guru IPA SMP swasta tidak diundang. Panitia mohon maaf yang sebesar-besarnya, ini adalah murni kealpaan panitia, bukan berarti meninggalkan atau mengabaikan apalagi memandang sebelah mata kawan-kawan guru IPA di sekolah swasta. Semoga pada Halal bi Halal tahun berikutnya, kami lebih siap untuk mengundang semua guru IPA baik dari SMP maupun MTs, baik yang dari sekolah negeri maupun swasta.
Sebagai ustad dalam Halal bi Halal tersebut adalah bapak KH.    Guru SMA Negeri 1 Kendal. Dalam ceramahnya beliau mengingatkan pentingnya meminta maaf.  Beliau juga mengingat pentingnya ilmu pengetahuan untuk meningkatkan keimanan terhadap agama, tetapi juga diperlukan adanya landasan agama bagi orang yang mempelajari ilmu pengetahuan.
Hal tersebut tentunya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Fisikawan besar abad 20 Albert Einstein, “ Religion without science is blind, science without religion is lame”. Tentu kita tidak mau “blind” maupun “lame”, apalagi kedua-duanya. Maka marilah kita tetap mempelajari ilmu pengetahuan tanpa meninggalkan ilmu-ilmu agama.

Tentang mgmpipakendal

Wadah bergabungnya guru-guru IPA SMP se Kabupaten Kendal
Pos ini dipublikasikan di Umum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s