Guru Susanti Butuh Bantuan

Salah seorang rekan guru IPA dari SMP Ma’arif Brangsong (NU 07) ibu
Susanti, menderita GBS. Berikut surat pembaca yang dimuat di harian Suara Merdeka yang dikirmkan kakanya:

Pada Minggu, 11 Juli 2010, adik saya Susanti (28) yang baru menikah 4 bulan yang lalu, alumni IKIP PGRI semarang, masuk Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang setelah satu hari dirawat di Puskesmas Kaliwungu, Kendal. Dia kelelahan dan muntah-muntah setelah beberapa hari sebelumnya melakukan perjalanan panjang dengan bus Kendal-Bandung pp bersama guru dan murid SMP Ma’arif NU Brangsong, Kendal.

Di rumah sakit, dokter mendiagnosis adik saya terkena radang usus dan harus segera dioperasi. Setelah dua hari diopname, operasi dilakukan dan berjalan baik. Berdasarkan informasi, pascaoperasi adik saya memerlukan perawatan 4-6 hari.

Namun, beberapa hari setelah operasi, adik saya mengalami kejang dan kemudian mengalami lumpuh dari ujung kaki sampai tangan. Setelah dua minggu, tim dokter menginformasikan ia terkena Guillain-Barre Syndrome (GBS) dan harus dirawat di unit ICU.

Keluarga kaget dan panik mendapati keadaan yang demikian karena sebelumnya tidak pernah mendengar nama penyakit itu. Berdasarkan penjelasan dokter dan sejumlah informasi, GBS adalah penyakit pada susunan saraf yang terjadi secara akut dan menyeluruh, kadang-kadang mengenai saraf otak yang didahului oleh infeksi.

Sampai saat ini belum ada pengobatan spesifik untuk SGB, pengobatan terutama secara simptomatis. Proses semuanya itu memerlukan waktu 3 sampai 6 bulan dengan biaya obat yang sangat mahal hingga ratusan juta rupiah.

Menurut catatan direksi RS Sultan Agung, baru kali mereka mendapati jenis penyakit ini lebih dari lima tahun terakhir. Sudah lebih dari 15 hari dia di ICU dengan alat bantu pernapasan (ventilator) yang dimasukkan lewat trachea. Apabila ventilator dilepas, dalam beberapa menit mengalami gagal napas dengan akibat kematian.

Dikarenakan biaya pengobatan yang tidak kecil, mencapai ratusan juta rupiah, kami keluarga yang hanya menggantungkan hidup dari bertani, serta pasien yang hanya seorang guru swasta dengan gaji tidak lebih dari upah minimum regional; hanya bisa berusaha semampunya. Saat ini tagihan biaya pengobatan sudah lebih dari 100 juta rupiah dan keluarga tidak tahu bagaimana membayar tagihan dan memenuhi biaya-biaya selanjutnya.

Berdasarkan penjelasan dokter, Susanti membutuhkan penanganan yang serius karena GBS sudah melemahkan syaraf pernapasan. Selama 10 samapai 15 hari, mulai Rabu11 Agustus, rekomendasi dokter dia harus diberi 8 botol Imunoglobulin setiap hari untuk menetralisasi autoantibodi. Karena hanya itulah satu-satunya obat untuk GBS. Padahal harga obat per botol 2,5 juta rupiah dan biaya sewa ventilator kurang lebih 2 juta per hari, belum termasuk biaya-biaya medis yang lain.

Meski secara biaya sudah tidak mampu, manajemen rumah sakit dan keluarga tidak bisa menghentikan pengobatan. Lebih khusus lagi melepas alat bantu pernapasan. Kalau alat bantu pernapasan dilepas artinya sama dengan membiarkan dengan sengaja kematian.

Pada 10 Agustus, pihak rumah sakit tidak bisa memberikan Imunoglobulin dengan sekadar tanda tangan persetujuan dari keluarga. Padahal satu bulan sebelumnya sejak masuk rumah sakit hanya perlu persetujuan keluarga dalam bentuk tanda tangan. Kami harus membeli obat sendiri dari agen obat atau apotik. Dalam kondisi pasien memakai ventilator yang biaya sewa per hari kurang lebih 2 juta, keluarga tidak tahu bagaimana harus membeli obat tersebut.

Pada Rabu 11 Agustus keluarga terpaksa cari pinjaman untuk beli Imunoglobulin dengan jaminan tanah. Dengan cara itu keluarga hanya mampu beli Imunoglobulin untuk waktu 4 hari. Padahal poses pengobatan masih belum tahu sampai kapan berakhir.

Untuk itu, kami keluarga pasien memohon bantuan dan kebijaksanaan kepada sejumlah pihak, terutama pemerintah, lembaga atau yayasan. Kepada keluarga besar NU, Ibu dr. Hj. Widya Kandi Susanti dan bapak KH. Mustamsikin, LP Ma’arif NU dan guru pada umumnya kami memohon bantuan dan dukungannya. Kami juga mengetuk hati para dermawan serta siapa saja yang mungkin bersedia membantu proses pengobatan adik.

Sumardi
Kedungpucung, RT 02, RW 07,
Tunggulsari, Brangsong, Kendal
087832752346

Untuk itu, marilah kita guru-guru IPA di Kabupaten Kendal khususnya, dan diluar Kendal dan guru selain IPA pada umumnya, untuk mendoakan beliau, agar segera diberi kesembuhan. Selain doa, dibutuhkan juga uluran dana dari bapak/ibu semua untuk meringankan beban biaya selama perawatan di rumah sakit. Bantuan via no.rek. 0192965526, BNI, a.n, Rahmi H. atau no. rek. 1350006826315, Mandiri, a.n. Sabiq W

Tentang mgmpipakendal

Wadah bergabungnya guru-guru IPA SMP se Kabupaten Kendal
Pos ini dipublikasikan di Umum. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Guru Susanti Butuh Bantuan

  1. mgmpipakendal berkata:

    Segenap Pengurus MGMP IPA SMP/MTs Kabupaten Kendal turut mendoakan agar ibu Susanti segera diberi kesembuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s